Anggun tidak meminta kehidupannya menjadi seperti ini. Dipenuhi dengan kesesakan absolut ke mana pun ia melihat. Makhluk-makhluk di luar akal di mana-mana. Di pojok kelas, di ujung tangga, di sebelahnya saat makan di kantin sekolahnya, bahkan saat ia mengejan mengeluarkan feses di kamar mandinya.
Anggun lelah. Menjadi pelajar Sekolah Menengah Atas saja sudah cukup melelahkan. Segala tuntutan dari segala pihak segala masa. Anggun kesal. Ia tak bisa menikmati masa SMA-nya yang kata orang masa terindah dalam hidup manusia.
Maka, di sinilah ia sekarang. Di depan notebook 13″. Berharap ada tempat mengadu. Berharap ia bisa menemukan, untuk kemudian berbicara dengan, substansi yang menuliskan takdirnya ini.
Di situlah percakapan Anggun dengan “Tuhan” dimulai.